Work

Financial Technology Sebagai Pengungkit Perkembangan Ekonomi di Indonesia


Benarkah industri financial technology dapat bertindak sebagai pengungkit perkembangan ekonomi di Indonesia?

Financial Technology atau yang biasa disingkat dengan julukan fintech menjadi sebuah buzzword yang sedang hangat dibicarakan oleh praktisi startup di Indonesia. Hal ini sangatlah wajar bila mengingat potensi yang dimiliki oleh industri finansial sendiri yang masih sangat terbuka dan erat akan kebutuhan sehari-hari.

Hal ini juga terbukti dari ketertarikan investor atau VC untuk memberikan modal kepada startup-startup fintech di seluruh dunia termasuk di Asia Tenggara.

Seperti yang dilansir dalam laporan yang ada pada portal berita Accenture, pada kuarter pertama tahun 2016, jumlah investasi untuk startup fintech mencapai 70 triliun rupiah. Terjadi peningkatan hingga 67% dari tahun sebelumnya dimana 62%nya mengalir ke Eropa dan Asia.

Line Graph

Di Asia-Pasifik sendiri, investasi terhadap industri fintech ini meningkat lebih dari empat kali lipat pada tahun 2015 menjadi sekitar 57 triliun rupiah dimana 45% dari jumlah tersebut terjadi di China dan 38%nya di India.

Tentunya angka tersebut juga ikut mendorong para innovator di Indonesia untuk berlomba-lomba menciptakan startup yang disruptive pada industri fintech ini. Perkembangan fokus perusahaan startup fintech ini yang pada awalnya terfokus pada melengkapi kebutuhan bank kepada konsumen, bergeser menjadi menciptakan teknologi yang dapat bersaing dengan bank secara langsung.

Mengenal Para Pemain di Industri Fintech


Salah satu startup yang menarik perhatian saya adalah Flip. Flip adalah sebuah perusahaan yang berfokus untuk memecahkan masalah biaya transfer ke bank lain. Dengan mekanisme yang sederhana, yaitu dengan memiliki banyak akun bank, startup yang didirikan oleh mahasiswa Fasilkom UI ini berhasil mencatat lebih dari 66.000 transaksi dengan nilai milyaran rupiah. Sangat menarik bukan?

Dilain sisi, ada juga sebuah startup yang berfokus pada pinjam-meminjam uang antar penggunanya istilah kerennya adalah Peer-To-Peer Lending. Salah satu startup yang bermain disini adalah UangTeman. Dengan proses yang mudah yaitu dengan menggunakan KTP saja, UangTeman memiliki harapan untuk menjadi alternatif dari model pinjaman konvensional bank atau perusahaan pembiayaan lainnya.

Selain dari itu banyak juga pemain lama yang terus berusaha untuk terus membangun infrastruktur pembayaran online di Indonesia. Contohnya adalah Veritrans dan Doku Wallet. Kedua perusahaan ini telah sangat banyak membantu penjual-penjual di ecommerce seperti Tokopedia dan BukaLapak untuk terus berkembang.

Peran dari platform pembayaran ini adalah sebagai cara alternatif pembayaran barang dari ecommerce tersebut. Hal ini tentunya akan meningkatkan transaksi online karena orang-orang yang belum mempunyai ATM bisa langsung membeli barang dan membayarnya di payment point terdekat seperti mini market.

Bank konvensional serta penyedia layanan telekmunikasi yang ada di Indonesia pun tidak mau kalah dan ikut membangun platform digital untuk mobile paymentnya masing-masing. Setidaknya, setiap bank sekarang sudah memiliki sebuah aplikasi seperti Sakuku BCA, Telkomsel T-CashDompetku Indosat Ooredoo dan Uangku SmartFren.

Platform pengumpul dana secara massal (crowdfunding), juga sedang menjadi naik daun. Di Indonesia sendiri, model seperti ini biasanya digabungkan dengan model kewirausahaan sosial seperti Kitabisa.com dan GandengTangan.org.

Tantangan Yang Dihadapi


1. Kurangnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Industri Fintech

Jika saya perhatikan, animo masyarakat Indonesia terhadap perkembangan teknologi finansial ini masih tergolong cukup rendah jika dibandingkan dengan ecommerce. Namun, mulai ada beberapa acara-acara yang membahas tentang fintech ini. Salah satunya adalah Indonesia Fintech Festival & Conference (www.fintechfest.id) yang akan diadakan pada akhir Agustus mendatang di ICE BSD.

Acara tersebut tentunya akan menjadi ajang pertemuan para pemain besar di industri fintech untuk saling berkolaborasi serta menjadi tempat sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mempopulerkan perkembangan teknologi finansial ini.

2. Rendahnya Pengguna Kartu Kredit di Indonesia

Menurut penjabaran dari Imam Akbar Hadikusumo, VP Merchant Product dari Doku Wallet, pada saat ini sistem pembayaran yang paling populer di Indonesia adalah transfer menggunakan bank yaitu sebesar 57%, selanjutnya diikuti oleh pembayaran langsung (Cash on Delivery) sebanyak 28%. Padahal, kedua jenis pembayaran tersebut memiliki resiko yang paling besar terhadap terjadinya penipuan dan fraud.

Penggunaan kartu kredit di Indonesia hingga saat ini juga dirasa masih kurang populer yaitu yang tercatat hanylah 16 juta kartu saja. Jika kita bandingkan dengan kartu ATM yang berjumlah 66 juta, angka tersebut sangatlah jauh dibawahnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, bermunculan sistem payment gateway yang telah saya sebutkan sebelumnya seperti Veritrans, Doku Wallet, Kartuku dan lainnya.

Setiap elemen yang termasuk dalam fintech & ecommerce harus bekerja sama dalam mengedukasi masyarakat Indonesia untuk mulai menggunakan online payment gateway karena dinilai lebih aman. Buat yang belum tahu, kebanyakan dari sistem online payment gateway di Indonesia juga sudah memiliki tingkat keamanan hingga tingkat yang tertinggi di dunia yaitu Level A. Selain itu juga mendukung SSL, Industry Standard, 3D Secure dan juga Fraud Management.

3. Belum Adanya Peraturan Yang Jelas Dari Pemerintah

Meskipun potensi dari industri fintech ini sangatlah besar, masalah lambatnya pemerintah dalam menanggapi perkembangan ini masih sangat banyak.

Dari sisi pemberi dana muncul masalah mengenai risiko dana yang tidak dapat kembali. Meskipun seperti itu, menurut pengalaman yang telah dijalankan oleh pelaku fintech, risiko kredit macet sangat kecil dan cenderung masih bisa diatasi.

Masalah lain yang terjadi adalah terkait perizinan, terutama ketika startup tersebut ingin mengurus kredit dan asuransi. Masalah ini menjadi masalah yang cukup serius karena terkait dengan rekening perusahaan.

Nyatanya, pemain pada industri fintech sering mengalami kesulitan untuk membuka rekening dengan nama perusahaannya. Sebab, salah satu syarat administrasi pembukaan rekening itu adalah izin perusahaan. Pihak bank masih sering mempertanyakan bagaimana perizinan perusahaan startup tersebut.

Padahal, dukungan pemerintah sangatlah diperlukan dalam masa-masa awal perkembangan industri fintech di Indonesia ini. Dengan adanya dukungan pemerintah, para pelaku usaha tentunya akan merasa lebih aman dan terjamin.

Kesimpulan


Industri Financial Technology ini memiliki potensi yang sangat besar terhadap perkembangan ekonomi di Indonesia. Karena cenderung akan meningkatkan inklusivitas keuangan yang ada di Indonesia. Sektor fintech inilah yang menjadi harapan utama oleh pemerintah dan masyarakat untuk memicu peningkatan jumlah masyarakat yang menjangkau akses layanan keuangan dan memajukan iklim keuangan inklusif di Indonesia.

Namun, meskipun memiliki potensi yang besar dan dukungan oleh pihak-pihak seperti VC dan investor, masih banyak tantangan-tantangan yang perlu dibenahi di Indonesia ini sendiri. Mulai dari sosialisasi terhadap industri fintech ini hingga dukungan oleh pemerintah terkait kebijakan-kebijakan dalam sektor keuangan.

Harapan saya adalah dengan diadakannya acara-acara seperti IFFC 2016 (www.fintechfest.id) akan lebih banyak lagi masyarakat yang paham mengenai perkembangan fintech dan semakin banyak bermunculan pemain-pemain baru dalam industri fintech agar bisa lebih menjadi katrol perkembangan ekonomi di Indonesia.

Referensi


Artikel

  1. https://newsroom.accenture.com/news/global-fintech-investment-growth-continues-in-2016-driven-by-europe-and-asia-accenture-study-finds.htm
  2. http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt571f579e34e05/3-persoalan-hukum-penghambat-industri-financial-technology
  3. http://manajemen.bisnis.com/read/20160602/237/553762/indonesia-fintech-pembayaran-digital-akan-mendorong-inklusivitas-keuangan-di-indonesia

Gambar

  1. Cover: http://blog.symbid.com/wp-content/uploads/2015/05/which-of-these-13-companies-will-be-the-next-big-tech-ipo-11846ba5b3.jpg
  2. Grafik: https://newsroom.accenture.com//content/1101/images/Line%20Graph.jpg

 

Work
When Your Idealism Prevent You From Growth, Compromise.
Work
To Write, Not To Be A Writer
Work
The Easy Way To Learn About Growth Hacking

Financial Technology Sebagai Pengungkit Perkembangan Ekonomi di Indonesia

by Gilang Agustiar time to read: 4 min
0